ASUHAN
KEPERAWATAN
TUMOR KULIT
Di susun oleh :
Roni setiawan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
HUSADA JOMBANG
PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan tugas asuhan keperawatan kami, yang kami beri judul Asuhan
Keperawatan TUMOR KULIT
Askep ini kami tulis berdasarkan revisi dari buku,search di internet dan
sumber-sumber yang dapat kami percaya. Dengan dibuatnya pembahasan tentang
penyakit anemia periciosa ini kami harap mahasiswa dapat memiliki sumber
pembelajaran tambahan mengenai penyakit ini.
kami menyadari bahwa pembahasan asuhan keperawatan ini jauh dari kata
sempurna. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar pembahasan tugas ini menjadi lebih baik. Akhir kata semoga
bermanfaat bagi semua yang membaca atau mendengarkan materi makalah ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………
A.
Konsep Dasar Penyakit…………………………………………………………………………………
B.
Konsep Dasar Keperawatan……………………………………………………………………………
BAB II
KESIMPULAN………………………………………………………………………………………….
A.
Kesimpulan……………………………………………………………………………………………..
B.
Saran…………………………………………………………………………………………………….
BAB III
PENUTUP………………………………………………………………………………………………
BAB I
ASKEP TUMOR
KULIT
Tumor kulit adalah
suatu benjolan yang dapat berbentuk dari berbagai jenis sel-sel dalam kulit
(sel-sel epidermis, melanosit). Tumor-tumor ini dapat merupakan tumor jinak
atau tumor ganas, dapat terletak dalam epidermis atau menembus kedalam dermis
dan jaringan subkutan (Arif Muttaqin, 2010)
Tumor Kulit adalah
tumor yang terbentuk dari berbagai jenis sel seperti sel-sel epidermis, dan
melanosit. Tumor-tumor ini dapat merupakan tumor jinak atau ganas, dapat
terletak dalam epidermis atau menembus ke dalam dermis dan jaringan
subkutan.(Price Sylvia, 2006)
Tumor kulit adalah suatu penyakit yang ditandai
dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan
di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Keganasan kulit merupakan tiga serangkai
keganasan pada umumnya yang ditemukan di Indonesia. Urutannya dapat berubah,
akan tetapi dalam kelompok 3 besar, yakni kulit, cervic, mammae. Zaman sebelum
penjajahan tumor ganas kulit lebih banyak ditemukan pada rakyat atau petani
(banyak trauma, tidak memakai sepatu pada golongan pribumi). Setelah penjajahan
(sesudah tahun 1945) ternyata tumor ganas sudah berubah tidak lagi di tungkai,
dan kanker penis banyak ditemukan pada pria yang tidak disunat. Basal sel
karsinoma ternyata banyak ditemukan di sekitar mata. Kelompok umur 50-59 tahun
tetap merupakan golongan yang terbanyak menanggung resiko tumor ganas kulit,
perbedaan antara pria dan wanita tidak bermakna.
Penyebab pasti dari kanker kulit belum ditemukan secara pasti, namun ada
beberapa factor resiko yang dapat menyebabkan timbulnya tumor/kanker
kulit yaitu:
Penyebab yang paling sering adalah
paparan sinar UV baik dari matahari maupun dari sumber yang lain. Lama
paparan, intensitas sinar UV, serta ada tidaknya pelindung kulit baik dengan
pakaian atau krim anti matahari.
Orang yang memiliki kulit putih lebih
rentan terkena daripada orang yang memiliki kulit lebih gelap. Hal ini
dikarenakan jumlah pigmen melanin pada orang kulit putih lebih sedikit. Kadar
melanin yang tinggi bisa melindungi kulit dari paparan berbahaya sinar
matahari, sehingga mengurangi risiko terkena kanker kulit. Namun, orang-orang yang memiliki kulit gelap
juga bisa terkena kanker kulit
meskipun jumlahnya cenderung lebih kecil.
Bahan kimia tertentu seperti arsenik,
nikotin, tar, dan minyak diyakini dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit. Namun, dalam banyak
kasus paparan dalam jangka panjanglah yang biasanya menyebabkan kanker kulit. Gen
pembawa kanker atau tumor sudah dimiliki hampir seluruh orang sejak lahir.
Namun dengan ‘bantuan’ zat atau bahan karsinogen terjadi mutasi sel dan
menimbulkan kanker atau tumor. Akhir-akhir ini, para peneliti di University of
Pittsburg Cancer Institute di Amerika telah memukan virus-virus yang dapat
menyebabkan kanker kulit diantaranya adalah human papilloma virus/ HPV
(Isselbacher, et al, 2002).
Susunan genetik dalam keluarga bisa
berpengaruh juga terhadap munculnya kanker
kulit. Jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena kanker kulit, maka risiko terkena kanker kulit pada anggota keluarga
yang lain juga akan meningkat.
Etiologi tidak diketahui tetapi sinar
ultraviolet paling diketahui sebagai penyebab. Umumnya resiko tertinggi oleh
orang yang berkulit putih atau cerah, bermata biru, berambut merah atau pirang
dengan bercak-bercak kecoklatan pada kulitnya. Orang-orang ini mensintesis
melanin lebih lambat. Orang keturunan Celtic atau Skandinavia menghadapi resiko
yang lebih besar didampingi orang yang sering terbakar sinar matahari. Tetapi
kulitnya tidak pernah menjadi coklat kekuningan. Pada kawasan tempat matahari
sangat terik terdapat peningkatan insidensi yang tidak sebanding. Penduduk
amerika berusia lanjut yang menghabiskan waktu pensiunnya pada kawasan Amerika
barat daya tampak memiliki insidensi yang tertinggi. Populasi lain yang
beresiko pernah menderita melanoma di masa lalu, memiliki riwayat melanoma
dalam keluarga, mempunya nevus congenital yang berukuran raksasa atau memiliki
riwayat luka bakar matahari yang parah.
Hingga 10% penderita melanoma merupakan anggota
keluarga yang cenderung menderita melanoma dan memiliki lebih dari satu nevus
yang terus berubah (nevi displastik) serta rentan trehadap transformasi
maligna. Penderita sindrom nervus displastikternyata memiliki mola yang tidak
lazim berukuran lebih besar berjumlah lebih banyak, lesi dengan garis bentuk
yang tidak teratur dan pigmentasi pada seluruh kulit. Pemeriksaan mikroskopik
nervus yang displastik akan memperlihatkan pertumbuhan yang abnormal dan menyimpang.
Perjalanan penyakit dari tumor kulit tidak
dapat ditentukan dengan pasti, kadang-kadang tumornya kecil akan tetapi telah
bermetastasis jauh. tumor yang besar pun juga dapat setempat saja dalam jangka
waktu yang lama.
Karsinoma sel sekuamosa berasal dari sel
epidermis yang mempunyai tingkat kematangan, dapat intraepidermal, dapat opula
bersifat infasif dan bermetastasis jauh. Lokasi kelainan penyakit paget ialah
daerah kulit yang mempunyai kelenjar apokrin. Pada payudara di kenal sebagai
penyakit paget payudara (mammary paget’s disease), sedangkan lokasi lainnya
(extra mammary paget’s desease) secara berurutan ialah: vulva, perianal,
penis,skotum, lipat paha, ketiak, dan kelopak mata.
Penyakit paget merupakan epidermotrophic Ca of
the mammary ducts sehingga yang tampak di kulit merupakan penyebaran dari
saluran kelenjar payudara. Dengan demikian, adeno-karsinoma payudara merupakan
asal usul penyakit paget payudara. Penyakit paget di sekitar alat kelamin dapat
berasal dari adnexal carcinoma di
bawahnya atau berasal dari karsinoma saluran kemih bagian bawah. Penyakit paget
di luar payudara sering bersamaan dengan anak sebar pada anak dalam di
sekitarnya
Karsinoma sel basal tumbuh
dari lapisan sel basal pada epidermis atau folikel rambut. Penyakit kanker
ini merupakan tipe kanker kulit yang paling sering di temukan. Umumnya
karsinoma sel basal timbul di daerah tubuh yang terpajan sinar matahari dan
lebih prevalen pada kawasan tempat populasi penduduk mengalami pajanan sinar
matahari yang intensif dan ekstensif. Insidensi tersebut berbanding lurus
dengan usia pasien (usia rata-rata 60 tahun) serta jumlah total pajanan sinar
matahari, dan berbanding terbalik dengan jumlah pigmen melanin dalam kulit.
Karsinoma sel basal biasanya di mulai sebagai
nodul kecil seperti malam (lilin) dengan tepi yang tergulung, translusen dan
mengkilap; pembuluh darah yang mengalami telangiektasia dapat di jumpai. Dengan
tumbuhnya sel basal akan terjadi ulserasi pada bagian tengahnya dan
kadang-kadang pembentukan krusta. Tumor paling sering muncul di daerah muka.
Karsinoma sel basal di tandai dengan invasi dan erosi jaringan yang bersambung
(siling menyatu). Karsinoma ini jarang bermetastasetetapi rekurensi sering
terjadi. Namun demikian, lesi yang diabaikan dapat menyebabkan hilangnya
hidung, telinga atau bibir. Lesi lain akibat penyakit ini dapat timbul sebagai
plak yang mengkilap, datar berwarna kelabu atau kekuningan.
Karsinoma sel skuamosa merupakan proliferasi
malignan yang timbul dari dalam epidermis. Meskipun biasanya muncul pada kulit
yang merusak karena sinar matahari, karsinoma ini dapat pula timbul dari kulit
yang normal atau lesi kulit yang sudah ada sebelumnya. Penyakit kanker ini
merupakan permasalahan yang lebih gawat daripada karsinoma sel basal karena
sifatnya yang sungguh-sungguh invasive dengan mengadakan metastase lewat system
limfatik atau darah. Metastase menyebabkan 75% kematian karena karsinoma sel
skuamosa. Lesinya dapat bersifat primer karena timbul pada kulit maupun membran
mukosa, atau bisa terjadi sekunder dari suatu keadaan precancerous seperti keratosis aktinika (lesi pada bagian kulit
yang terpajan sinar matahari), leukoplakia (lesi premalignan pada membrane
mukosa) atau lesi dengan pembebtukan sikatriks atau ulkus. Karsinoma sel
skuamosa tampak sebagai sebuah tumor yang kasar, tebal dan bersisik tanpa
memberikan gejala (asimtomatik) tetapi bisa menimbulkan pendarahan. Tepi
lesinya dapat lebih lebar, lebih terinfiltrasi dan lebih memperlihatkan reaksi
inflamasi bila dibandingkan dengan karsinoma sel basal. Infeksinya sekunder
dapat terjadi. Daerah-daerah yang terbuka, khususnya ekstremitas atas, muka,
bibir bawah, telinga, hidung dan dahi, merupakan lokasi kulit yang sering
terkena kanker ini.
Kanker kulit di diagnosis dari pemeriksaan
biopsy dan hasil evaluasi histologik.
Metastase. Insidensi mestastase berhubungan
dengan tipe histologik dan tingkat kedalaman invasinya. Biasanya karsinoma sel
skuamosa yang tumbuh di daerah kulit yang rusak karena sinar matahari tidak
begitu invasive dan jarang menimbulkan kematian, sementara yang tumbuh tanpa
riwayat pajanan matahari atau arsen atau tanpa pembentukan sikatriks memiliki
frekuensi yang lebih tinggi untuk mengadakan penyebaran metastatik. Selanjutnya
pasien harus dievaluasi untuk mendeteksi metastase pada kelenjar limfe
regional.
Ada beberapa kelainan
kulit yang harus dicurigai sebagai kanker kulit yaitu :
a.
Benjolan kecil yang membesar
Benjolan terdapat
diwajah, berwarna pucat seperti lilin, permukaannya mengkilap, tidak terasa
sakit atau gatal, dan yang semula kecil makin lama makin membesar. Apabila
diraba, benjolan terasa keras kenyal. Kadang-kadang benjolan menjadi hitam atau
kebiruan, bagian tengah mencekung dan tertutup kerak atau keropeng yang mudah
berdarah bila diangkat.
b.
Benjolan yang permukaannya tidak rata dan mudah berdarah
Benjolan ini membasah
dan tertutup keropeng, teraba keras kenyal, dan mudah berdarah bila disentuh.
c.
Tahi lalat yang berubah warna
Tahi lalat menjadi
lebih hitam, gatal, sekitarnya berwarna kemerahan dan mudah berdarah.Tahi lalat
ini bertambah besar dan kadang-kadang di sektarnya timbul bintik-bintik.
d.
Koreng atau borok dan luka yang tidak mau sembuh
Koreng dan luka yang
sudah lama, tidak pernah sembuh walaupun sudah diobati, koreng ini pinggirnya
meninggi dan teraba keras serta mudah berdarah, adanya koreng karena terjadi
benturan, bekas luka ang sudah lama atau terinfeksi.
e.
Bercak kecoklatan pada orang tua
Bercak ini banyak
ditemukan pada muka dan lengan, bercak ini makin lama permukaannya makin kasar,
bergerigi, tetapi tidak rapuh, tidak gatal, dan tidak sakit.
f.
Bercak hitam ysng menebal pada telapak kaki dan tangan
Bercak ini ditemukan
pada kulit yang berwarna pucat seperti ditelapak kaki dan telapak tangan.
Bercak ini mula-mula dangkal, berwarna hitam keabuan, batas kabur, tepi tidak
teraba, tidak sakit maupun gatal. Kemudian bercak cepat berubah menjadi lebih
hitam, menonjol diatas permukaan kulit, dan tumbuh ke dalam kulit serta mudah
berdarah.
Tumor Ganas
Tumor ganas dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a)
Kasinoma Sel Basa
Merupakan tumor ganas pada kulit yang paling
sering terjadi, berasal dari sel epiderma sepanjang lamina basalis epodemis.
Insiden karsinoma sel basa berbanding lurus dengan usia pasien dan berbanding
terbalik dengan jumlah pigmen melanin di epidermis. Pasien dengan riwayat
karsinoma sel basa harus menggunakan tabir surya atau pakaian pelindung untuk
menghindari sinar karsinogenik matahari. Tumor ini ditandai dengan nodul
seperti mutiara, halus, dam kemerahan. Karsinoma sel basa harus diobati dengan
tepat. Pengobatan meliputi kuretease dengan elektrodesikasi, bedah scalpel,
iradiasi, bedah dengan bahan kimia, bedah beku.
b)
Karsinoma Sel Skuamosa
Sel skuamosa merupakan neoplasma ganas pada
keratinosid yang berasal dari sel epidermis yang lebih berdiferensiasi
(keratinosid). Secara khas, tumor timbul di atas kulit yang dirusak cahaya
matahari dengan adanya banyak adanya keratonis aktinik. Cahaya matahari merupakan
factor etiologi utama yang menyebabkan karsinoma sel skuamosa pada kulit.
Penyebab lain karsinoma sel skuamosa meliputi menelan arsen, iradiasi sinar x,
luka baker, jaringan parut, dan kerentanan genetic. Karsinoma sela skuamosa
yang timbul pada kulit yang rusak akibat cahaya matahari biasanya tidak
bermetastasis dan jarang menyebabkan kematian, namun ada yang tidak terpajan
sinar matahari, setelah menelan arsen atau di atas parut lama, mempunyai resiko
metastasis terbesar.
Suatu varian karsinoma sel skuamosa yang
terbatas pada epidermis disebut penyakit Bowen,
penyakit ini biasanya disebabkan oleh pajanan sinar matahari kronik. Karsinoma
sel skuamosa muncul karena bentuk tumor atau nodul yang menebal, berskuama, dan
berulserasi yang kadang-kadang berdarah dam biasanya timbul di atas kulit
wajah, kepala, telinga, leher, tangan atau lengan yang rusak oleh cahaya
matahari.
Pengobatan karsinoma sel skuamosa dan variannya
adalah eksisi bedah.
c)
Melanoma
Melanoma malignum hanyalah 3% dari semua keganasan
kulit primer tetapi mengakibatkan hamper semua kematian yang disebabkan oleh
kanker kulit. Kebanyakan melanoma terjadi pada kelompok usia 40 – 70 tahun,
tetapi jumlah kasus telah meningkat diantara kelompok usia 20 – 40 tahun. Salah
satu penjelasan untuk peningkatan insiden ini adalah pajanan sinar matahari
yang lebih besar saat rekreasi dan perubahan cara berpakaian. Diagnosis
didasarkan pada perubahan bentuk, warna, ukuran dan konfigurasi lezi yang
berpigmen.
Melanoma yang menyebar superficial merupakan
jenis yang paling sering (60% sampai 80%) dan mempunyai prognosis paling baik.
Sebagian besar pasien mempunyai harapan hidup 5 tahun atau lebih dan banyak
yang sembuh. Diagnosis dini dan pengobatan bedah berperan dalam perbaikan
statistic.
Pengobatan melanoma malignum terutama dengan
pembedahan. Pasien dengan melanoma
diseminata dilakukan kemoterapi.
Tumor Jinak
a)
Keratonis Seboroid
Bermanisfestasi sebagai
neoplasma mirip kutil, berwarna coklat sperti dilekatkan pada permukaan
epidermis. Peneyebab dari tumor jinak ini tidak diketahui. Sel-sel tumor ini
berasal dari sel basar sel basal kecil yang terlokalisasi pada epidermis.
Pasien yang lebih tua dapat mengalami keratosis seboroid multipel di seluruh
tubuh, wajah, dan ekstremitas atas.
Pengobatan tidak
diperlukan kecuali atas alasan kosmetik atau diagnostik.
b) Keratonis Aktinik
Keratonis atinik bbiasanya
timbul pada permukaan kulit yang terkena sinar matahari seperti wajah, leher,
kulit kepala dan ekstremitas. Daerah yang terserang tampak seperti lezi
eritematosa, bersisik dan dengan permukaan yang kasar. Lezi ini disebabkan oleh
pajanan sinar matahari kronik, terutama pada pasien berusia lanjut. Neoplasma
prakanker ini dapat berubah menjadi karsinoma sel skuamosa dan harus diobati. Tindakan
pengobatannya termasuk elektrodesikasi dengan kuretase atau bedah beku. Pasien
diingatkan terhadap pajanan sinar matahari selanjutnya, dan dianjurkan untuk
memaki tabir surya yang dapat menghambat sinar UV B dan UV A dengan faktor
proteksi 15 atau 30 (Presun, Solbar, Sundown, Bain de Soleir).
c)
Keratoakantoma
Keratoakantoma adalah
tumor yang berbentuk kubah dengan bagian tengahnya berbentuk kawah atau
mengalami ulserasi. Tumor ini tumbuh dengan cepat dalam waktu beberapa bulan
dan biasanya timbul pada orang tua yang berkulit terang.
Tumor ini jinak dan dapat
mengalami involunsi spontan. Karena tumor ini dapat menyerupai karsinoma sel
skuamosa, maka tumor ini harus di eksisi untuk pemeriksaan histopatologi.
d)
Dermatofibroma, Akrokordon dan Keloid
Empat tumor jinak yang paling sering di temukan
adalah dematofibroma, akrokordon (skintags), keloid, hyperplasia sebaseus.
Dermatofibroma adalah nodul coklat yang
biasanya di temukan pada kaki, tubuh dan lengan. Pada palpasi konsistensinya
keras seperti kancing. Tumor ini hanya di eksisis karena alas an kosmetik atau
diagnostic, karena tumor ini jinak.
Skintags (akrokordon ) sering
kali terdapat di leher, axial, dan lipat paha pada pasien tua dan setengah
baya. Akrokordon lebih banyak di jumpai pada pasien yang gemuk dan pada wanita
hamil daripada populasi secara umum. Tumor ini di eksisi bila nyeri dan karena
alasan kosmetik.
Keloid di sebabkan oleh
pembentukan jaringan parut abnormal yang terjadi bahkan setelah cedera minor.
Keloid lebih sering pada orang Afrika Amerika daripada keturuna Kaukasia, dan
ada kecenderungan genetik. Eksisi jaringan keloid boleh di usahakan untuk alasan
kosmetik. Eksisi keloid yang di kombinasi denga injeksi kortikosteroid ke dalam
lesi sering kali merupakan pengobatan yang efektif.
e)
Tumor Jinak Pembuluh Darah
Diantara sejumlah tumor
pembuluh darah kulit, jenis yang paling sering di temui adalah nevus flammeus,
angioma strauberi, angioma ceri, angioma laba-laba (spider nevi), dan granulome piogenik. Floriferasi kapiler-kapiler
matur yang menimbulkan perubahan warna menjadi merah muda pada kulit bayi baru
lahir disebut nevus plammeus. Apabila kapiler ini mengikuti cabang saraf
trigeminus, maka kondisi ini dapat disertai angioma pada mata ipsilateral dan
sistem saraf pusat (syndrom Sturge-Weber). Keadaan ini dapat menimbulkan
glaukoma dan kejang kontra lateral. Nevus plammeus dapat menghilang atau tetap
bertahan untuk waktu yang sangat lama. Jika lesinya tetap ada, direkomendasikan
untuk melakukan penyamaran dengan dandanan (Covermark, DermaBland). Laser
pewarna dengan pulsasi berguna untuk pengobatan hemangioma ini.
Angioma stawberi timbul setelah lahir dan
mengalami involusi spontan setelah usia 7 tahun
pada 70% sampai 95 % dari semua kasus. Proliferasi kapiler dalam dermis
menyebabkan nodula merah-kebiruan yang meninggi biasanya di kepala dan tubuh bagian
atas, tetapi dapt juga tibul dimana saja di permukaan tubuh. Karena sering kali
berinvolusi spontan maka pengobatan tumor ini biasanya tidak diperlukan.
Angioma ceri adalah papula yang agak
meninggi berwarna merah pada tubuh dan ekstremitas orang tua dan setengah baya.
Lesi asimtomatik dan jinak, dan tidak diperlukan pengobatan.
Angioma laba-laba timbul pada perempuan pada
masa kehamilan, pada peminum alkohol dan juga pada anak- anak. Sebuah arteriola
sentral memberi makan berbagai cabang kecil dari tumor ini. Angioma laba-laba
multiple dapat disebabkan oleh penyakit hati seperti sirosis. Umunya angioma
laba-laba pada nak-anak dan wanita hamil dapat sembuh dengan sendirinya.
Angioma laba-laba yang persisten dapat dibuang dengan elektrodesikasi atau
laser pewarna dengan pilsasi.
Granuloma piogenik disebabkan oleh suatu
proliferasi abnormal jaringan granulasi. Tumor timbul pada tempat trauma yang
terjadi. Timbul nodul-nodul lembab berwarna merah atau ungu bertangkai. Tumor
jinak ini kadang-kadang berdarah dan diobati dengan pembedahan.
Test lab dan pemeriksaan darah
membantu mendiagnosa kanker. Sebagian malignasi dapat merubah komposisi atau
status hematologic.
Hasil biopsy
memastikan diagnosis melanoma. Spesimen
biopsy yang diperoleh dengan cara eksisi mengungkapkan informasi
histologik mengenai tipe, taraf invas dan ketebalan lesi. Biopsy insisi
harus dilakukan jika lesi yang dicurigai terlalu luas untuk dapat diangkat
dengan aman tanpa pembentukan sikatriks yang berlebihan (Runkle &
Zalonznik, 1994). Specimen biopsy yang diperoleh dengan pemangkasan, kuratasee
atau aspirasi jarum dianggap bukan bukti histologik penyakit yang dapat
diandalkan.
Untuk melanoma yang lebih dalam,
pemeriksaan mungkin diindikasikan untuk menemukan adanya metastase penyakit.Ini
meliputi pemeriksaan darah, pemeriksaan sinar x, dan atau CT scan.
Penatalaksanaan medis
Ahli bedah biasanya akan mengangkat
lesi ditambah batas-batas jaringan normal sekitarnya untuk mencegah
berkembangnya kembali tumor tersebut. Satu margin 1-2 cm sekeliling melanoma
dipertimbangkan secara adekuat untuk melanoma dengan ketebalan kurang dari 3 mm
lesi-lesi dengan kedalaman lebih dari 1 mm tetapi kurang dari 3 mm ditangani
melalui pembedahan dengan kesembuhan kira-kira 70-80 %lesi dalam lebih dari 3
mm kemungkinan akan mengalami kekambuhan sekitar 40-50 %. Batas- batas reseksi
sekeliling melanoma yang dalam ini biasanya direkomendasikan menjadi paling
sedikit 2-3 cm
Bedah Elektro.Merupakan teknik penghancuran atau penghilangan jaringan
dengan menggunakan energi listrik. Arus listrik dikonversikan menjadi panas
yang kemudian dihantarkan ke jaringan dari elektroda dingin. Bedah elektro
dapat didahului dengan kuretase yang dilaksanakan lewat eksisi tumor dengan
mengerok permukaanya memakai alat kuret. Kemudian dilakukan elektrodesikasi
untuk mencapai hemostasis dan menghancurkan setiap sel malignan yang viable
pada dasar luka atau di sepanjang bagian tepinya. Elektrodesikasi sangat
berguna untuk lesi yang kecil (lebarnya kurang 1-2 cm atau 0,4 – 0,8 inci).
Metode ini memanfaatkan keuntungan bahwa tumor yang kecil lebih lunak daripada
jaringan kulit di sekitranya dan dengan demikian luasnya dapat ditentukan
sevara garis besar dengan alat kuret yang dapat “merasakan” luas jaringan
tumor. Tumor diangkat dan bagian dasarnya dikauter. Proses ini diulang sampai
tiga kali. Biasanya kesembuhan terjadi dalam waktu satu bulan.
Bedah Beku. Bedah beku menghancurkan
tumor dengan cara deep freezing. Alat
jarum termokopel ditusukkan ke dalam kulit, dan kemudian nitrogen cair
dimasukkan ke dalam tumor samapai tercapai suhu -40o C hingga -60o
C pada dasar tumor. Nitrogen cair memiliki keuntungan yaitu titik didihnya
paling rendah dari semua kriogen yang dicoba, harganya tidak mahal dan juga
barangnya mudah diperoleh. Jaringan tumor dibekudinginkan, dibiarkan melunak
dan kemudian dibekudinginkan kembali. Lokasi yang menjalani bedah beku ini akan
melunak secara alami serta kemudian mengalami gelatinasi dan sembuh spontan.
Pembengkakan dan edema terjadi setelah pembekuan. Penampakan lesi bervariasi.
Kesembuhan normal yang dapat memakan waktu 4 hingga 6 minggu terjadi lebih
cepat di daerah-daerah dengan suplai darah yang baik.
Kemoterapi dapat diberikan dengan
berbagai cara salah satunya adalah secara topical, dimana agen-agen tersebut
diberikan secara langsung pada lesi. Agen-agen yang digunakan meliputi 5
flourourasil atau psorelen. Obat-obat yang paling umum digunakan untuk ini
meliputi melpalan, dakarbazasin (DTIC), dan sisplatin. Cara yang dilakukan
dalam memberikan kemoterapi adalah secara sistemik. Saat ini kemoterapi
sistemik belum dapat membuktikan efektivitasnya dalam mencegah kambuhnya
penyakit pada pasien dengan jenis kanker fase dini. Tapi biasanya digunakan
pada orang dengan penyakit yang menyebar secara luas
Terapi biologis juga disebut
bioterapi atau immunoterapi, bekerja baik secara langsung ataupun tidak
langsung melawan kanker dengan mengubah cara-cara tubuh untuk bereaksi terhadap
kanker.Bentuk umum dari bioterapi dibawah penyelidikan untuk melanoma meliputi
vaksin, injeksi bacterium yang diketahui sebgaai BSG (Basilus Calmeete Guerin)
dan penggunaan interferon, interleukin, dan antibiotic monoklanal. Vaksinasi
tersebut dibuat dari melanoma yang diradiasi dan dinon-aktifkan. Diharapkan
vaksin-vaksin tersebut akan mensintesis system imun untuk mengenal melanoma dan
oleh karenanya akan meningkatkan kemampuan system untuk menghancurkan melanoma
tersebut. Injeksi BSG mempengaruhi stimulasi non-spesifik dari system imun dan
sedang dipelajari sebagai terapi untuk pasien-pasien fase awal.Diharapkan bahwa
injeksi BSG secara langsung kedalam metastase nodul-nodul subkutan dapat
menyebabkan regresi lesi.
Terapi radiasi merupakan bentuk
pengobatan lainnya. Dengan penggunaan energy sinar X dosis tinggi, kobalt,
electron, atau sumber-sumber radiasi lainnya untuk menghancurkan atau membunuh
sel-sel melanoma
Penatalaksanaan
keperawatan
Karena banyak kanker
kulit yang diangkat dengan tindakan eksisi, peran perawat adalah :
1) Meredakan nyeri dan ketidaknyamanan
2)
Pemberian analgetik tepat
3)
Meredakan ansietas
4)
Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah.
- Status
kesehatan saat ini : keluhan utama, alasan MRS, dan perjalanan sakit saat ini,
upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
- Status
kesehatan masa lalu : penyakit yang pernah dialami, pernah dirawat, alergi ,
riwayat penyakit keluarga, dan diagnosa medis & therapy.
Pengkajian terhadap pasien melanoma
maligna dilakukan berdasarkan riwayat pasien dan gejalanya. Pasien ditanya
khususnya tentang gejala pruritus, nyeri tekan dan rasa sakit yang bukan merupakan ciri khas nevus yang
benigna. Kepada pasien juga ditanyakan mengenai perubahan yang terjadi pada
nevus yang sudah ada sebelumnya atau pertumbuhan lesi baru yuang berpigmen.
Orang-orang yang berisiko harus diperiksa dengan cermat.
Kaca pembesar dan pencahayaan yang
baik diperlukan dalam melakukan inspeksi kulit untuk menemukan iregularitas dan
perubahan pada nevus. Tanda-tanda yang menunjukkan perubahan malignan mencakup
berikut ini :
1)
Warna yang bervariasi
a)
Warna yang dapat menunjukan keganasan pada lesi yang coklat atau hitam adalah
bayangan warna merah, putih dan biru; bayangan wana biru dianggap lebih
menkhawatirkan.
b)
Daerah-daerah putih dalam lesi yang berpigmen perlu di curigai.
c)
Sebagian melanoma maligna tidak memiliki warna yang bervariasi tetapi
sebaliknya mempunyai warna yang seragam (hitam kebiruan, kelabu kebiruan, merah
kebiruan).
2)
Tepi yang ireguler
a)
Indentasi atau lekukan yang menyudut pada bagian tepi nevus harus dicatat.
3)
Permukaan yang ireguler
a)
Tonjolan permukaan yang tidak merata (topografi ireguler) dapat teraba atau
terlihat. Perubahan pada permukaan bisa licin hingga seperti sisik.
b)
Sebagian melanoma manoduler memiliki permukaan yang licin.
Lokasi melanoma yang
sering adalah kulit pada bagian punggung, tungkai (khususnya wanita), antara
jari-jari kaki dan pada kaki, muka, kulit kepala, jari-jari tangan serta bagian
dorsal tangan. Pada orang yang berkulit gelap, melanoma paling sering terdapat
ditempat yang tidak begitu mengandung pigmen seperti : telapak tangan, telapak
kaki, daerah subungual dan memebran mukosa.
Diameter nevus harus
diukur karena umumnya melanoma berukuran lebih dari 6 mm. Lesi satelit (lesi yang terletak didekat nevus) harus di catat.
1)
Nyeri berhubungan dengan pembentukan bula, papula, lesi dan perubahan pigmen
kulit ditandai dengan pasien mengeluh nyeri, pasien tampak meringis dan
memegang bagian yang sakit.
2)
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembentukan bula, papula, lesi
dan perubahan pigmen kulit ditandai dengan tak ada jaringan kulit yang hidup,
regenerasi (-).
3)
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
demam, malaise, dan penurunan nafsu makan ditandai dengan penurunan BB, makan
tidak habis 1 porsi, turgor lemah dan wajah pucat.
4)
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri, bau busuk, dan ansietas ditandai
dengan pasien terus menerus terjaga, tidak mampu menentukan kebutuhan waktu
tidur; letargi; tampak ada bayangan lengkaran gelap di bawah mata; terus
menerus menguap karena mengantuk.
5)
Resiko infeksi berhubungan dengan Pembentukan pus dan nekrosis jaringan kulit
1) Nyeri
berhubungan dengan pembentukan bula, papula, lesi dan perubahan pigmen kulit
ditandai dengan pasien mengeluh nyeri, pasien tampak meringis dan memegang
bagian yang sakit.
Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol.
Kriteria hasil : Pasien melaporkan nyeri hilang/ terkontrol 0-1 (0-10), menunjukan
ekspresi wajah/postur tubuh rileks, berpartisipasi dalam aktivitas dan
tidur/istirahat dengan tepat.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Mandiri
Ubah posisi
dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai indikasi.
Pertahankan
suhu lingkungan nyaman, berikan lampu penghangat, penutup tubuh hangat.
Kaji nyeri
secara komprehensif(PQRST) , keluhan nyeri, perhatikan lokasi/karakter dan
intensitas (skala 0-10).
Dorong
ekspresi perasaan tentang nyeri.
Libatkan
pasien dalam penentuan jadwal aktivitas, pengobatan, pemberian obat.
Jelaskan
prosedut/berikan informasi seiring dengan tepat, khususnya selama debridemen
luka.
Berikan
tindakan kenyamanan dasar contoh pijatan pada area yang tak sakit, perubahan
posisi dengan sering.
Dorong
penggunaan teknik manajemen stres, contoh relaksasi progresif, nafas dalam,
bimbingan imajinasi dan visualisasi.
Berikan
aktivitas terapeutik tepat untuk usia/kondisi.
Tingkatkan
periode tidur tanpa gangguan.
Kolaborasi
Berikan
analgesik sesuai indikasi.
|
Gerakan dan
latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan otot tetapi tipe latihan
tergantung pada lokasi dan luas cedera.
Sumber panas
eksternal perlu untuk mencegah menggigil.
Nyeri hampir
selalu ada pada beberapa derajat beratnya keterlibatan jaringan/ kerusakan
tetapi biasanya paling berat selama pergantian balutan dan debridemen.
Perubahan lokasi/karakter/intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya
komplikasi (contoh: iskemia tungkai) atau perbaikan/kembalinya fungsi saraf
sensasi.
Pernyataan
memungkinkan pengungkapan emosi dan dapt meningkatkan mekanisme koping.
Meningkatkan
rasa kontrol pasien dan kekuatan mekanisme koping
Dukungan
empati dapat membantu meghilangkan nyeri/meningkatkan relaksasi. Mengetahui
apa yang diharapkan/memberikan kesempatan pada pasien untuk menyiapkan diri
dan meningkatkan rasa kontrol.
Meningkatkan
relaksasi; menurunkan tegangan otot dan kelelahan umum.
Memfokuskan
kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan rasa kontrol,
yang dapat menurunkan ketergantungan farmakologis.
Membantu
mengurangi konsentrasi nyeri yang dialami dan memfokuskan kembali perhatian.
Kekurangan
tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri/kemampuan koping.
Metode IV
sering digunakan pada awal untuk memaksimalkan efek obat. Masalah pasien
adiksi atau keraguan tentang derajat nyeri yang dialami tidak basah selama
fase perawatan darurat/akut, tetapi narkotik harus diturunkan sesegera
mungkin, sesuai adanya dan perubahan metode untuk penghilangan nyeri.
|
2) Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan pembentukan bula, papula, lesi dan
perubahan pigmen kulit ditandai dengan tak ada jaringan kulit yang hidup,
regenerasi (-).
Tujuan ; Kerusakan integritas kulit dapat ditangani.
Kriteria hasil : Menunjukan regenerasi jaringan.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Mandiri
Anjurkan
menggunakan baju katun halus dan hindari baju ketat, tutup/beri bantalan pada
daerah luka sesuai indikasi, biarkan insisi terbuka terhadap udara sebanyak
mungkin.
Mandikan
pasien dengan pancuran air hangat. Cuci insisi dengan perlahan. Beritahu
pasien untuk menghindari mandi dalam bak sampai diijinkan oleh dokter.
Sokong insisi
dengan strip steril (sesuai kebutuhan) bila jahitan diangkat.
Dorong
peningkatan kaki bila duduk di kursi.
Perhatikan
atau laporkan pada dokter: insisi yang tidak sembuh: pembukaan kembali insisi
yang telah sembuh; adanya drainase (berdarah atau purulen); area lokal yang
bengkak dengan kemerahan, rasa nyeri meningkat; dan rasa panas pada sentuhan.
Tingkatan
nutrisi dan masukan cairan adekuat.
Kolaborasi
Dapatkan
spesimen dari drainase luka sesuai indikasi.
|
Menurunkan
iritasi/jahitan dan tekanan dari baju. Membeiarkan insisi terbuka terhadap
udara meningkatkan proses penyembuhan dan menurunkan resiko infeksi.
Mempertahnkan
insisi bersih, meningkatkan sirkulasi atau penyembuhan. Catatan: ”memanjat” keluar dari bak mandi memerlukan penggunaan
lengan dengan otot pektoral, yang dapat menimbulkan stres yang tak perlu pada
sternotomi.
Membantu
mempertahankan penyatuan tepi luka untuk meningkatkan penyembuhan.
Meningkatkan
sirkulasi, menurunkan edema untuk memperbaiki penyembuhan luka.
Tanda atau
gejala yang menandakan kegagalan penyembuhan terjadi komplikasi yang
memerlukan evaluasi/intervensi lanjut.
Membantu
untuk mempertahankan volume sirkulasi yang baik untuk perfusi jaringan dan
memenuhi kebutuhan energi seluler untuk memudahkan proses regenerasi atau
penyembuhan jaringan.
Bila infeksi
terjadi, pengobatan lokal dan sistemik mungkin diperlukan, misal : terapi
peroksida/salin/sabun betadine, antibiotik.
|
3) Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan demam, malaise, dan
penurunan nafsu makan ditandai dengan penurunan BB, makan tidak habis 1 porsi,
turgor lemah dan wajah pucat.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : Menunjukan pemasukan nutrisi adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik
ditunjukan oleh BB stabil, makan habis 1, turgor baik, dan wajah tidak pucat.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Mandiri
Pertahankan
jumlah kalori ketat. Timbang BB
tiap hari..
Awasi massa otot/lemak
subkutan sesuai indikasi
Berikan makan
dan makanan kecil sedikit dan sering.
Dorong pasien
untuk memandang diet sebagai pengobatan dan untuk mebuat pilihan
makanan/minuman tinggi kalori/protein.
Dorong pasien
untuk duduk saat makan, dikunjungi orang lain.
Berikan
kebersihan oral sebelum makan.
Lakukan
pemeriksaan glukosa strip jari, klinitese/asetes sesuai indikasi.
Kolaborasi
Rujuk ke ahli
diet/tim dukungan nutrisi.
Berikan diet
tinggi kalori/protein dengan tambahan vitamin.
Pasang/pertahankan
makanan sedikit melalui selang enterik/tambahan bila dibutuhkan.
Berikan
hiperalimentasi parentral sesuai indikasi
Awasi
pemeriksaan laboratorium, contoh: albumin serum, kreatinin, transferin,
nitrogen urea urin.
Berikan insulin
sesuai indikasi
|
Pedoman tepat
untuk pemasukan kalori tepat. Sesuai penyembuhan luka. Dievaluasi untuk
mengitung bentuk diet yang diberikan dan penilaian yang tepat dimulai.
Mungkin
berguna dalam memperkirakan perbaikan tubuh/kehilangan dan keefektifan
terapi.
Membantu
mencegah distensi gaster/ketidaknyamanandan meningkatkan pemasukan.
Kalori dan
protein diperlukan untuk mempertahankan BB, memenuhi kebutuhan metabolik, dan
meningkatkan penyembuhan.
Duduk dapat
mencegah aspirasi dan membantu pencernaan makanan yang baik. Sosialisai
meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan pemasukan.
Mulut/palatum
bersih meningkatkan rasa dan membantu nafsu makan yang baik.
Mengawasi
terjadinya hiperglikemia sehubungan dengan perubahan hormonal/kebutuhan atau
penggunaan hiperalimentasi untuk memenuhi kebutuhan kalori.
Berguna dalam
membuat kebutuhan nutrisi individu (berdasarkan berat badan dan cedera area
permukaan tubuh) dan mengidentifikasi nutrisi yang tepat.
Kalori
(3000-5000 per hari), protein, dan vitamin yang dibutuhkan untuk memenuhi
peningkatan kebutuhan metabolik, mempertahankan BB, dan mendorong regenerasi
jaringan. Catatan; rute oral paling
baik untuk mengembalikan fungsi GIT.
Memberikan
makanan kontinue/tambahan bila pasien tidak mampu untuk mengkonsumsi
kebutuhan kalori toyal harian secara oral. Catatan: selang makan kontinue selama makan meningkatkan
pemasukan kalori tanpa penurunan nafsu makan dan pemasukan oral selama sehat.
Hiperalimentasi
akan mempertahankan pemasukan nutrisi atau memenuhi kebutuhan metabolik pada
adanya komplikasi berat atau berlanjutnya cedera esofageal atau gastrik yang
tidak mungkin makan per enteral.
Indikator
kebutuhan nutrisi dan keadekuatan diet total terapi.
Peningkatan
kadar glukosa serum dapat terjadi sehubungan dengan respon strees terhadap
cedera, pemasukan tinggi kalori, kelelahan pankreas.
|
4) Gangguan pola
tidur berhubungan dengan nyeri, bau busuk, dan ansietas ditandai dengan pasien
terus menerus terjaga, tidak mampu menentukan kebutuhan waktu tidur; letargi;
tampak ada bayangan lengkaran gelap di bawah mata; terus menerus menguap karena
mengantuk.
Tujuaan : Kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi.
Kriteria hasil : Pasien mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan
terhadap pikiran yang melayang-layang (melamun) dan kecemasan; pasien tampak
atau melaporkan dapt beristirahat dengan cukup.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Mandiri
Berikan
kesempatan untuk beristirahat tidur sejenak, anjurkan latihan saat siang hari
, turunkan aktivitas mental/fisik pada sore hari.
Evaluasi
tingkat stress/orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
Lengkapi
jadwal tidur dan ritual secara teratur. Katakan kepada apsien bahwa saat ini
adalah waktu tidur.
Berikan
makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
Turunkan
jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
Putarkan
musik yang lembut atau suara yang jernih.
Kolaborasi
Berikan obat
sesuai indikasi:
· Antidepresi seperti: amitriptilin (Elavil); doksepin
(Senequan) dan trasolon (Desyrel).
· Koral hidrat; oksasepam (Serax); triazolan (Halcion)
Hindari
penggunann dipenhidramin (Benadryl)
|
Karena
aktivitas fisik dan mental mengakibatkan kelelahan yang dapat meningkatkan
kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang
meningkatkan waktu tidur.
Peningkatan
kebingungan, disoreientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom
sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
Penguatan
bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan: penundaan waktu tidur mungkin
diindikasikan untuk memungkinkan pasien membuang kelebihan energi dan
memfasilitasi tidur.
Meningkatkan
relaksasi dengan perasaan mengantuk.
Menurunkan
kebutuhan akan bangun untuk pergi ke kamar mandi/berkemih selam malam hari.
Menurunkan
stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar
yang akan menghambat tidur nyenyak.
Mungkin
efektif dalam menangani pseudomensia atau depresi, meningkatkan kemampuan
untuk tidur tetapi antikolinergik dapat memncetuskan bingung dan memperburuk
kognitif dan efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang
mebatasi manfaat maksimal.
Gunakan
dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomnia
atau sindrom sundowner.
Bila
digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini
mempengaruhi produksi asetilkolin yang sudah dihambat dalam otak pasie dalam
DAT ini.
|
5) Resiko infeksi
berhubungan dengan Pembentukan pus dan
nekrosis jaringan kulit
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil : Mencapai penyembuhan luka tepat waktu bebas eksudat purulen dan tidak
demam.
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
Mandiri
Implementasikan teknik isolasi yang tepat
sesuai indikasi.
Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang
baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien.
Gunakan skort, sarung tangan, masker, dan
teknik aseptic ketat selama perawatan luka langsung dan berikan pakaian
steril/baru juga linen/pakaian.
Awasi/batasi
pengunjung, bila perlu. Jelaskan prosedur isolasi terhadap pengunjung bila
perlu.
Bersihkan
jaringan nekrotik/ yang lepas (termasuk pecahanya lepuh) dengan guntung dan
forcep. Jangan ganggu lepuh yang utuh bila lebih kecil dari 2-3 cm, jangan
pengaruhi fungsi sendi dan jangan pajankan luka yang terinfeksi.
Periksa luka
tiap hari, perhatikan/catat perubahan penampilan, bau, atau kuantitas
drainase.
Awasi tanda
vital untuk demam, peningkatan frekuensi/kedalaman pernafasan sehubungan
dengan perubahan sensori, adanya diare, penurunan jumlah trombosit,
hiperglikemia dan glikosuria.
Kolaborasi
Ambil kultur
rutin dan sensitivitas luka/drainase.
Bantu biopsi
eksisi bila infeksi dicurigai
Foto luka
pada awal dan dengan interval periodik.
|
Tergantung
tipe/luasnya dan (misalnya: pilihan pengobatan luka tertutup vs terbuka);
isolasi dapat direntang dari luka sederhana/kulit sampai komplit/sebaliknya
untuk menurunkan resiko infeksi silang/ terpajan pada flora bakteri multiple.
Mencegah
kontaminasi silang; menurunkan resiko infeksi.
Mencegah
terpajan pada organisme infeksius.
Mencegah
kontaminasi silang dari pengunjung. Masalah resiko infeksi harus seimbang
melawan kebutuhan pasien untuk dukungan keluarga dan sosialisasi.
Meningkatkan
penyembuhan. Mencegah autokontaminasi. Lepuh yang kecil membantu melindungi
kulit dan meningkatkan kecepatan reepitelisasi.
Mengindetifikasi
adanya penyembuhan (granulasi jaringan).
Indikator
sepsis memerlukan evaluasi cepat dan intervensi. Catatan: perubahan sensori,
kebiasaan defekasi, dan frekuensi pernafasan biasanya berlanjut, demam dan
perubahan hasil laboratorium.
Memungkinkan
pengenalan dini dan pengubatan khusus infeksi luka.
Bakteri dapat
terkolonisasi pada permukaan luka tanpa masuk ke jaringan di bawahnya; namun
luka biopsi dapat diambil untuk diagnosa infeksi.
Memberi dasar
dan catatan proses penyembuhan.
|
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana
tindakan.
Dx 1 : Nyeri berkurang/ terkontrol
Dx 2 : Kerusakan integritas kulit dapat
ditangani.
Dx 3 : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Dx 4 : Kebutuhan istirahat dan tidur terpenuhi
Dx 5 : Tidak terjadi infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth.
2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta : EGC
Doenges E Marilynn,
2000 . Rencana Asuhan Keperawatan. EGC :Jakarta
Herdman, T. Heather. 2012. NANDA Definisi dan Klasifikasi 2012-2014 (terjemahan). Jakarta :
EGC
Prof.dr. Adhi Djuanda, dr
Mochtar Hamzah. dr Siti Aisah.2002.Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
I saw so many testimonies about Dr Itua a great HERBAL DOCTOR that can cure all kind of diseases and give you the rightful health to live a joyful life, i didn't believe it at first, but as the pain got worse and my life was at risk after visiting my therapist numeriuos times for combination of treatments. and no changes so i decided to take a try, I contacted him also and told him i want a cure for Vulvar cancer/ Testicular cancer and it was Stage IIIA, he gave me advice on what i must do and he delivered it to me in my state which i use according to his instruction, and today i must say I am so grateful to this man Dr Itua for curing me from Vulvar cancer/ Testicular cancer and for restoring me back to my normal health and a sound life,i am making this known to every one out there who have been living with cancers all his life or any sick person should not waist more time just contact him with his details below- WhatsApp- +2348149277967 Email drituaherbalcenter@gmail.com, believe me this man is a good man with Godly heart, this is the real secret we all have been searching for. Do not waste more time contact him today for you also to live a sound and happy life. he cure the following disease,thyroid Cancer,Uterine cancer,Fibroid,Angiopathy, Ataxia,Arthritis,Amyotrophic Lateral Scoliosis,Brain Tumor,Fibromyalgia, Fluoroquinolone Toxicity Bladder cancer,Brain cancer,Hiv,Herpes,Esophageal cancer,Gallbladder cancer,Gestational trophoblastic disease,Head and neck cancer,Hodgkin lymphoma
BalasHapusIntestinal cancer,Kidney cancer,Hpv,Lung cancer,Melanoma,Mesothelioma,Multiple myeloma,Neuroendocrine tumors
Non-Hodgkin lymphoma,Oral cancer,Ovarian cancer,Sinus cancer,Hepatitis A,B/C,Skin cancer,Soft tissue sarcoma,Stroke,Lupus,Spinal cancer,Stomach cancer,Vaginal cancer,Vulvar cancer,
Testicular cancer,Tach Diseases,Pancreatic Cnacer,Leukemia,Liver cancer,Throat cancer,
Syndrome Fibrodysplasia Ossificans ProgresSclerosis,Alzheimer's disease,Chronic Diarrhea,Copd,Parkinson,Als,Adrenocortical carcinoma Infectious mononucleosis.